Upaya AQUA

Upaya AQUA Menjaga Kualitas Air Sejak dari Hulu Merapi

Upaya Aqua Menjaga Kualitas Air Sejak Dari Hulu Merapi, Air Merupakan Salah Satu Sumber Daya Alam Yang Sangat Penting Bagi Kehidupan. Namun, menjaga kualitas air tidak cukup hanya di lakukan ketika air sudah berada di tempat pengolahan. Perlindungan harus di mulai sejak dari sumbernya, termasuk kawasan hulu dan daerah resapan air.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam upaya konservasi sumber air yang di lakukan AQUA di kawasan Gunung Merapi, khususnya wilayah Boyolali dan Klaten, Jawa Tengah. Kawasan hulu memiliki peran penting karena menjadi tempat air hujan meresap ke dalam tanah sebelum tersimpan dan mengalir menuju lapisan akuifer.

Upaya Aqua, Menjaga Kawasan Hulu Merapi

Kawasan lereng Gunung Merapi memiliki karakteristik geologi yang mendukung penyimpanan air. Air hujan yang turun di kawasan tersebut dapat meresap melalui lapisan tanah dan batuan vulkanik sebelum menjadi bagian dari cadangan air bawah tanah.

Ahli hidrologi UGM Prof Dr Rer Nat Ir Heru Hendrayana menjelaskan bahwa batuan gunung api muda di lereng Merapi memiliki kemampuan menyimpan dan mengalirkan air dalam jumlah besar. Air hujan yang meresap kemudian tersimpan dalam akuifer sebelum akhirnya muncul sebagai mata air.

Karena itu, kondisi lingkungan di kawasan resapan menjadi faktor penting. Kerusakan vegetasi, perubahan penggunaan lahan, dan pencemaran dapat memengaruhi proses alami tersebut.

AQUA kemudian menjalankan berbagai program konservasi untuk menjaga ekosistem di kawasan sumber air. Pendekatan yang di lakukan tidak hanya berfokus pada air, tetapi juga mencakup tanah, tanaman, keanekaragaman hayati, dan masyarakat sekitar.

Konservasi Melibatkan Masyarakat

Salah satu pendekatan yang di lakukan adalah melibatkan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Upaya konservasi akan lebih efektif apabila warga yang tinggal di sekitar sumber air ikut memahami manfaat kawasan tersebut.

Di kawasan Merapi, terdapat kegiatan pembibitan dan konservasi tanaman, termasuk anggrek spesies asli Merapi. Program konservasi anggrek tersebut telah di lakukan bersama masyarakat sejak 2016. Salah satu spesies yang mendapat perhatian adalah Vanda tricolor, yang merupakan bagian dari keanekaragaman hayati kawasan Merapi.

Konservasi tanaman memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar menjaga keberadaan suatu spesies. Vegetasi dapat membantu menjaga kondisi tanah, mengurangi risiko erosi, sekaligus mendukung proses penyerapan air ke dalam tanah.

Dengan demikian, perlindungan terhadap ekosistem dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga sumber air.

Air Mengalami Proses Alami

Sumber air yang di manfaatkan untuk produksi air minum dalam kemasan memiliki karakteristik berbeda dengan air permukaan. Di wilayah Klaten, AQUA memanfaatkan sumber air bawah permukaan yang berasal dari kawasan kaki Gunung Merapi.

Air tersebut berada pada akuifer yang terlindungi dan mengalami proses penyaringan alami ketika melewati berbagai lapisan batuan. Proses tersebut turut memberikan karakter mineral alami pada air.

Menariknya, perjalanan air dari kawasan resapan hingga menjadi sumber air dapat berlangsung dalam waktu yang sangat panjang. Penelitian yang di kutip dari keterangan Danone Indonesia menyebutkan bahwa air hujan yang meresap di lereng Merapi dapat membutuhkan waktu sekitar 27 tahun sebelum akhirnya keluar sebagai mata air.

Hal ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan hari ini memiliki kaitan erat dengan ketersediaan air pada masa mendatang.

Menjaga Kualitas Air hingga Hilir

Upaya menjaga air tidak berhenti di kawasan hulu. Di wilayah hilir, AQUA juga mendukung program pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Salah satunya melalui pendampingan kepada petani untuk menerapkan budidaya padi sehat dan hortikultura. Penggunaan pupuk serta pestisida secara berlebihan berpotensi memengaruhi kualitas lingkungan dan sumber air.

Melalui pendampingan, petani di dorong untuk menerapkan metode budidaya yang dapat mengurangi potensi pencemaran sekaligus menjaga produktivitas pertanian.

Selain itu, terdapat Taman Keanekaragaman Hayati atau Taman Kehati di Klaten yang menjadi bagian dari upaya menjaga ekosistem di sekitar wilayah hilir. Kawasan tersebut berfungsi sebagai ruang perlindungan berbagai jenis tanaman sekaligus mendukung keseimbangan lingkungan.