
Kapal Perang Belanda De Ruyter Pernah Tenggelam di Laut Jawa
Kapal Perang Belanda HNLMS De Ruyter Kembali Menjadi Sorotan Publik Setelah Bersandar Di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur. Kehadiran kapal perang modern milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda tersebut menarik perhatian karena nama “De Ruyter” memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan pertempuran laut di Indonesia pada masa Perang Dunia II.
Nama De Ruyter sendiri pernah digunakan oleh kapal perang Belanda yang tenggelam di Laut Jawa dalam Pertempuran Laut Jawa pada tahun 1942. Kapal tersebut karam setelah di serang armada Jepang ketika perang besar terjadi di kawasan Asia Pasifik. Kini, nama itu kembali hadir melalui kapal perang terbaru Belanda yang sedang menjalankan misi diplomatik di kawasan Indo-Pasifik.
Singgah dalam Misi Diplomatik
HNLMS De Ruyter yang datang ke Surabaya merupakan kapal fregat modern milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Kapal tersebut menjalankan misi diplomatik bertajuk Pacific Archer yang bertujuan memperkuat kerja sama keamanan maritim di kawasan Indo-Pasifik.
Kapal perang itu bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Kamis, 14 Mei 2026. Dalam kunjungan tersebut, sejumlah personel Angkatan Laut Kerajaan Belanda juga terlihat berada di atas kapal saat proses sandar berlangsung. Menurut laporan, kapal tersebut di jadwalkan berada di Surabaya hingga Minggu sebelum kembali melanjutkan pelayaran ke negara berikutnya dalam rangkaian misi internasional mereka.
Perkuat Hubungan dengan Indonesia
Kedatangan HNLMS De Ruyter juga di sebut sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan diplomatik antara Belanda dan Indonesia, khususnya dalam bidang keamanan laut dan kerja sama maritim. Selain Indonesia, Belanda juga menjalin kerja sama dengan berbagai negara Indo-Pasifik terkait stabilitas kawasan dan keamanan jalur pelayaran internasional. Kunjungan kapal perang asing ke Indonesia memang bukan hal baru. Namun nama De Ruyter memiliki nilai sejarah tersendiri karena berkaitan langsung dengan peristiwa besar di Laut Jawa pada masa perang dunia.
Pernah Tenggelam di Laut Jawa
Nama De Ruyter sangat di kenal dalam sejarah militer laut Belanda. Kapal perang HNLMS De Ruyter generasi lama pernah menjadi bagian dari armada Sekutu dalam Pertempuran Laut Jawa tahun 1942.
Saat itu, kapal tersebut dipimpin oleh Laksamana Karel Doorman dalam upaya menghadang invasi Jepang ke Hindia Belanda atau wilayah Indonesia saat ini. Pertempuran besar terjadi di Laut Jawa dan menjadi salah satu pertempuran laut terbesar di kawasan Asia Tenggara selama Perang Dunia II.
Dalam pertempuran tersebut, HNLMS De Ruyter terkena torpedo yang ditembakkan kapal perang Jepang dan akhirnya tenggelam bersama sebagian besar awak kapal. Peristiwa itu menjadi salah satu catatan sejarah penting dalam perang laut dunia.
Bangkai Kapal Pernah Menghilang
Beberapa tahun lalu, bangkai kapal HNLMS De Ruyter juga sempat menjadi perhatian dunia setelah di laporkan hilang dari dasar Laut Jawa. Penemuan itu mengejutkan banyak pihak karena kapal tersebut di anggap sebagai situs sejarah perang.
Kasus hilangnya bangkai kapal perang itu sempat memicu penyelidikan internasional terkait dugaan pencurian besi bangkai kapal di wilayah Laut Jawa. Peristiwa tersebut juga menjadi perhatian pemerintah Belanda dan Indonesia. Karena itulah, nama De Ruyter memiliki ikatan sejarah yang cukup kuat dengan Indonesia, khususnya wilayah perairan Laut Jawa.
Kapal Perang Belanda Modern dengan Teknologi Canggih
HNLMS De Ruyter generasi terbaru yang kini singgah di Surabaya merupakan kapal fregat modern dengan teknologi tempur canggih. Kapal ini termasuk dalam jajaran kapal perang utama Angkatan Laut Kerajaan Belanda.
Kapal tersebut di lengkapi sistem radar modern, rudal pertahanan udara, meriam otomatis, hingga kemampuan operasi maritim jarak jauh. Selain di gunakan untuk misi pertahanan, kapal ini juga sering di terjunkan dalam operasi diplomatik dan keamanan internasional.
Belanda sendiri di kenal sebagai salah satu negara dengan tradisi maritim kuat di Eropa. Sejarah panjang pelayaran dan kekuatan laut membuat negara tersebut terus mempertahankan armada laut modern hingga saat ini.