
Mark Zuckerberg Bantah Instagram Bikin Kecanduan Anak
Mark Zuckerberg CEO Dari Meta Platforms Tegas Membantah Tuduhan Bahwa Aplikasi Media Sosialnya Membuat Anak-Anak Kecanduan. Gugatan ini merupakan bagian dari salah satu uji hukum besar yang menempatkan perusahaan teknologi besar di bawah pengawasan publik dan hukum terkait dampak platform digital bagi kesehatan mental generasi muda.
Persidangan ini bermula dari gugatan yang di ajukan oleh seorang perempuan yang mengklaim bahwa paparan awal pada media social Mark Zuckerberg. Termasuk Instagram sejak masa kecil, berdampak buruk pada kesehatannya yang di sebut sebagai kecanduan, depresi, dan masalah mental lainnya. Gugatan ini menggugat Meta dan sejumlah perusahaan teknologi sejenis karena dugaan desain algoritma dan fitur yang dipaksakan untuk menarik waktu penggunaan anak-anak dan remaja.
Dalam sidang itu, pengacara penggugat menunjukkan dokumen internal yang menunjukkan perusahaan pernah mengincar peningkatan keterlibatan pengguna muda. Serta adanya strategi yang berpotensi mendorong anak-anak untuk lebih lama berada di dalam aplikasi. Dokumen itu menimbulkan pertanyaan soal apakah Instagram membawa fitur yang meningkatkan risiko kecanduan bagi pengguna muda Mark Zuckerberg.
Jawaban Mark Zuckerberg di Pengadilan
Zuckerberg secara langsung membantah bahwa Instagram sengaja di buat untuk membuat anak-anak kecanduan. Ia menegaskan bahwa tujuan layanan media sosial yang mereka kembangkan bukanlah untuk mengeksploitasi kehidupan anak muda. Tetapi untuk menciptakan platform yang berguna bagi penggunanya. Termasuk konektivitas, kreativitas. Dan sarana berbagi pengalaman pribadi.
Menurutnya, Instagram dan Facebook memiliki aturan yang jelas bahwa pengguna harus berusia minimal 13 tahun untuk membuat akun, meskipun ia mengakui tantangan dalam menerapkan dan mengawasi batasan usia tersebut. Terutama karena banyak anak muda dapat “memanipulasi” informasi usia mereka saat mendaftar. Zuckerberg juga mengatakan perusahaan berupaya membatasi kehadiran pengguna di bawah usia minimum dan terus memperbaiki sistem verifikasi.
Zuckerberg juga menolak anggapan bahwa algoritma atau fitur di platform bertujuan meningkatkan kecanduan anak-anak. Ia menggambarkan bahwa target internal perusahaan soal metrik keterlibatan, seperti waktu penggunaan, adalah bentuk aspirasi atau patokan dalam konteks persaingan teknologi, bukan strategi untuk secara sadar mengeksploitasi pengguna.
Fitur Keamanan dan Respons terhadap Kekhawatiran
Selain membantah tuduhan kecanduan, Zuckerberg mengatakan Meta telah memperkenalkan berbagai fitur dan alat yang di rancang untuk kesehatan digital pengguna. Termasuk upaya untuk mengoptimalkan kontrol orang tua, batas waktu penggunaan, dan notifikasi kesejahteraan. Meskipun tingkat adopsi fitur tersebut di kalangan remaja tidaklah tinggi.
Zuckerberg juga mencatat bahwa perusahaan sempat tidak mengadopsi beberapa saran dari pakar medis mengenai potensi dampak fitur seperti filter kecantikan. Namun menjelaskan bahwa keputusan tersebut di ambil dalam konteks memberikan kebebasan ekspresi bagi pengguna, sambil mencoba menyeimbangkan kebutuhan keselamatan digital.
Tantangan Usia dan Verifikasi
Salah satu poin penting dari kesaksian Mark Zuckerberg adalah tentang sulitnya memastikan semua pengguna benar-benar memenuhi batas usia yang di tetapkan. Ia menyebut bahwa meskipun ada aturan untuk membatasi usia pengguna, verifikasi usia di aplikasi sangat bergantung pada data yang diberikan pengguna sendiri. Dan ini menjadi tantangan besar, terutama ketika anak-anak berusaha masuk ke platform dengan identitas palsu.
Ia juga menyinggung bahwa pembuatan sistem verifikasi usia yang lebih kuat memerlukan kolaborasi dengan perusahaan pembuat perangkat. Seperti Apple dan Google untuk meningkatkan akurasi identifikasi usia pengguna saat mereka mengunduh aplikasi.
Reaksi Publik dan Implikasi Global
Kasus ini bukan hanya menjadi sorotan hukum, tetapi juga menarik perhatian opini publik dan pakar teknologi. Karena berpotensi membuka preseden baru dalam regulasi media sosial dan tanggung jawab platform digital terhadap kesehatan mental pengguna terutama anak-anak dan remaja. Hasil dari persidangan ini dapat mempengaruhi cara perusahaan teknologi besar mengatur pengalaman pengguna dan fitur di masa depan.
Survei juga menunjukkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat tentang dampak algoritma media sosial terhadap kecanduan digital. Dengan sebagian besar orang meminta agar perusahaan seperti Meta dan Google bertanggung jawab atas praktik yang dianggap “predatory” bagi pengguna muda.