BEM UGM

BEM UGM Prihatin Melihat Tragedi Memilukan Anak SD Di NTT

BEM UGM Sangat Prihatin Sekali Atas Tragedi Memilukan Seorang Anak Di Nusa Tenggara Timur (NTT) Yang Begitu Bikin Haru. Pada Jumat, 6 Februari 2026, BEM UGM secara resmi melayangkan surat terbuka kepada UNICEF (United Nations Children’s Fund) sebagai respons terhadap peristiwa tragis yang di duga di picu oleh ketidakmampuan ekonomi anak tersebut untuk membeli alat tulis sekolah.

Tragedi ini bermula dari kasus seorang siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Yang di temukan tewas setelah mengakhiri hidupnya sendiri akibat tekanan ekonomi keluarga yang tidak mampu menyediakan kebutuhan pendidikan paling dasar. Seperti buku dan pulpen, yang harganya kurang dari Rp10.000. Insiden ini mencuat menjadi sorotan nasional, menggugah rasa duka dan diskusi tentang kemiskinan struktural. Kemudian ketimpangan pendidikan, serta perlindungan anak di Indonesia.

Dalam surat terbuka tersebut, BEM UGM menyampaikan bahwa peristiwa tragis itu bukan sekadar kejadian lokal. Tetapi menjadi potret krisis kemanusiaan yang luput dari perhatian negara. Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menyatakan bahwa kasus ini menunjukkan jurang yang lebar antara narasi capaian pemerintah. Yang sering di paparkan di forum nasional dan realitas pahit di lapangan.

Menurut BEM UGM, narasi statistik tentang kemajuan pendidikan dan kesejahteraan yang di sampaikan oleh pemerintah tidak mencerminkan kondisi nyata yang di hadapi oleh masyarakat miskin, terutama di wilayah tertinggal seperti NTT. Mereka menilai tragedi ini sekaligus menjadi kritik tajam terhadap alokasi anggaran negara yang di nilai tidak berpihak pada pemenuhan hak-hak dasar anak.

Sorotan terhadap Anggaran dan Kebijakan Pendidikan

BEM UGM menilai bahwa pemerintah telah salah menentukan prioritas anggaran. Dalam surat kepada UNICEF, mahasiswa UGM membandingkan besarnya dana yang di gelontorkan untuk sejumlah program dengan kenyataan bahwa masih ada anak-anak yang kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan sederhana. Menurut mereka, ini adalah bentuk ketidakadilan struktural yang mengakibatkan kesenjangan pendidikan dan kesejahteraan semakin melebar.

Dalam kritiknya, BEM UGM juga menyoroti beberapa kebijakan pendidikan yang dianggap kurang menyentuh akar permasalahan. Termasuk program-program yang di nilai populis dan belum efektif dalam menangani kemiskinan struktural di daerah tertinggal. Mereka berpendapat bahwa program-program tersebut belum mampu memastikan hak anak atas pendidikan dapat terpenuhi secara adil dan merata di seluruh negeri.

Reaksi BEM UGM, Publik dan Implikasi Nasional

Surat terbuka ini tidak hanya menjadi langkah protes BEM UGM, tetapi juga memicu diskusi yang lebih luas di masyarakat. Banyak pihak melihat tragedi ini sebagai alarm serius bahwa sistem perlindungan sosial dan pendidikan di Indonesia masih memiliki celah besar yang harus segera di perbaiki. Perdebatan muncul di berbagai kalangan, mulai dari aktivis hingga pakar pendidikan dan perlindungan anak.

Selain itu, sebagian pihak menilai bahwa tragedi ini harus menjadi momentum untuk mengevaluasi implementasi program pendidikan nasional. Memperkuat dukungan bagi keluarga miskin, serta memastikan bahwa hak anak atas pendidikan. Termasuk akses terhadap alat tulis dan kebutuhan pembelajaran lainnya—dapat benar-benar terpenuhi.

Tantangan ke Depan dan Harapan Mahasiswa

BEM UGM berharap agar UNICEF sebagai badan internasional yang fokus pada perlindungan anak dapat memperhatikan kejadian ini dan mendorong langkah konkret untuk meningkatkan perlindungan hak anak di Indonesia, terutama di sektor pendidikan. Surat ini juga dianggap sebagai bentuk diplomasi moral yang mengajak komunitas global untuk melihat realitas yang terjadi di lapangan.

Di sisi lain, mahasiswa menekankan bahwa tragedi tersebut harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengkaji ulang prioritas kebijakan publik, terutama dalam hal pendidikan, anggaran, dan pemenuhan hak dasar. Mereka berharap agar suara anak-anak yang rentan tidak hanya terdengar dalam statistik, tetapi juga terjamin dalam kehidupan nyata.