Motor Bebek

Motor Bebek Kembali Di Lirik, Tren Baru Di Pasar Otomotif

Motor Bebek Kembali Di Lirik Oleh Konsumen Setelah Beberapa Tahun Terakhir Dominan Skutik Hampir 92 % Pangsa Pasar Sepeda Motor Indonesia. Pergeseran ini memicu perdebatan dan perhatian pelaku industri otomotif, karena menunjukkan perubahan preferensi pasar yang signifikan. Di tengah tekanan ekonomi dan perubahan kondisi geografis yang di hadapi pengguna sepeda motor.

Selama beberapa dekade, kategori Motor Bebek jenis sepeda motor underbone yang di kenal dengan rangka tanpa rangka monocoque. Dan panggilan populer di Indonesia sebagai Motor Bebek sempat menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat karena irit bahan bakar. Kemudian biaya perawatan terjangkau, dan kemampuan melewati medan yang beragam. Namun kehadiran skutik modern yang lebih nyaman serta praktis membawa segmen skuter matik (skutik) menguasai pasar dalam beberapa tahun terakhir.

Apa yang Membuat Motor Bebek Kembali Dilirik?

Menurut pengamatan pelaku industri, termasuk pernyataan dari Presiden Direktur dan CEO Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) Dyonisius Beti, sejumlah faktor telah mendorong kembalinya minat konsumen terhadap motor bebek. Pertama, faktor ekonomi seperti tekanan daya beli membuat konsumen semakin selektif dalam memilih jenis kendaraan yang lebih hemat. Model skutik premium yang selama ini banyak dipilih cenderung memiliki harga lebih tinggi di bandingkan motor bebek seri standar, sehingga segmen bebek menjadi alternatif yang rasional bagi pembeli yang mengutamakan efisiensi biaya.

“Premium (skutik Maxi) itu demand kategorinya turun, bergeser ke bawah,” kata Dyonisius Beti saat menjelaskan fenomena ini. Ia menekankan bahwa konsumen kini banyak yang memilih motor bebek entry level yang harganya lebih terjangkau untuk kebutuhan harian.

Selain itu, kondisi geografis di sejumlah daerah, misalnya wilayah yang sering mengalami hujan deras, banjir ringan, atau jalan yang kurang mulus. Membuat motor ini di pandang lebih tangguh dan fleksibel. Rangka underbone yang ringan dan desain yang sederhana membuat motor ini lebih mudah di kendalikan di medan menantang. Di bandingkan beberapa model skutik yang bobotnya lebih berat.

Data Pasar yang Menunjukkan Pergeseran

Walau data resmi Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) masih mencatat dominasi skutik di atas 90 % pangsa pasar domestik. Segmen motor underbone seperti bebek dan motor sport memang relatif kecil sekitar 4,5 % total penjualan. Meski demikian, adanya laporan peningkatan minat terhadap motor bebek mencerminkan bahwa segmen ini belum mati. Melainkan mengalami relevansi baru di kalangan konsumen tertentu. Khususnya di daerah atau bagi pengguna dengan kebutuhan transportasi yang spesifik.

Kembalinya daya tarik motor ini nampaknya juga di pengaruhi oleh perubahan pola pembelian konsumen dalam menghadapi ekonomi yang lebih berhati-hati. Konsumen kini tidak lagi semata mencari fitur atau desain paling baru. Tetapi juga nilai guna dari sisi biaya operasional yang rendah. Terutama bahan bakar dan biaya perawatan. Motor bebek yang sudah lama di kenal sebagai pilihan ekonomis kembali mendapat sorotan karena harga jual unit barunya dan bekasnya relatif bersaing di pasar.

Model Bebek yang Masih Menarik di Pasar

Meskipun data penjualan terbaru terfokus skutik, motor ini legendaris seperti Honda Revo dan Honda Supra X tetap banyak di pilih di pasar motor bekas karena irit bahan bakar. Kemudian biaya perawatan yang terjangkau, serta reputasi mesin yang tangguh. Di situs perdagangan motor bekas, model-model ini sering muncul dalam daftar sepeda motor yang paling banyak dicari oleh pembeli dengan anggaran terbatas. Terutama oleh pengguna komuter harian atau pengemudi layanan ojek online (ojol).

Honda Revo, misalnya, di kenal karena efisiensi bahan bakarnya, perawatan yang mudah, dan harga jual kembali yang stabil di pasar bekas. Honda Supra X juga di kenal luas sebagai motor bebek yang sangat andal untuk kondisi jalan kampung hingga perkotaan.