Gareth Bale

Gareth Bale Bongkar Penyebab Xabi Alonso Gagal Di Real Madrid

Gareth Bale Mengungkapkan Alasan Di Balik Kegagalan Pelatih Xabi Alonso Saat Menukangi Klub Raksasa Spanyol Itu. Meski Alonso memiliki reputasi gemilang sebagai pelatih, terutama usai kesuksesannya bersama Bayer Leverkusen. Gareth Bale menilai ada faktor yang lebih besar dari sekadar taktik — yaitu kemampuan untuk mengelola ego para pemain bintang di ruang ganti.

Alonso, yang sempat di pandang sebagai pilar masa depan Real Madrid sejak pengangkatannya pada Mei 2025, harus mengakhiri masa jabatannya hanya dalam delapan bulan pada Januari 2026. Keputusan klub ini datang setelah hasil kurang meyakinkan di berbagai kompetisi, termasuk kekalahan 3-2 dari Barcelona di final Supercopa de España.

Dalam komentarnya di program olahraga internasional, Gareth Bale dengan tegas menyatakan bahwa tantangan terbesar di Real Madrid bukanlah soal menyusun taktik yang rumit. Melainkan kemampuan untuk menjadi seorang manajer yang bisa merangkul dan juga menenangkan para pemain dengan kepercayaan diri tinggi. “Ketika Anda tiba di Real Madrid, Anda tidak hanya perlu menjadi seorang pelatih. Anda perlu menjadi seorang manager seseorang yang bisa mengelola ego di ruang ganti,” tutur Bale, mengutip komentar aslinya.

Pendapat Gareth Bale Memisahkan Dua Konsep Kepelatihan

Pendapat Bale Memisahkan Dua Konsep Kepelatihan yang sering di bicarakan di dunia sepak bola modern: pelatih (coach) dan manajer (manager). Bagi Bale, seorang pelatih hebat seperti Alonso yang terbukti sukses secara taktis bersama Bayer Leverkusen. Belum tentu tampil efektif di Santiago Bernabéu jika tidak mampu mengatasi dinamika internal yang unik di Real Madrid.

Menurut Bale, Los Blancos sejak lama di kenal sebagai klub yang di huni oleh Galácticos deretan talenta terbaik dunia yang bukan hanya mahir secara teknis. Tetapi juga memiliki karakter individual kuat yang membutuhkan pendekatan personal. Di sinilah letak tantangannya: beberapa pemain superstars lebih responsif terhadap manajemen kepercayaan diri dan hubungan interpersonal ketimbang sekadar tuntutan taktik.

Bale menambahkan bahwa di dalam ruang ganti Real Madrid “ada para superstar yang bisa mengubah permainan dalam sekejap.” Dengan kondisi seperti itu, strategi yang terlalu rumit atau ketat justru bisa memicu resistensi atau ketidaknyamanan di antara para pemain yang terbiasa dengan kebebasan kreatif.

Konflik Internal Dan Hubungan Dengan Pemain

Konflik Internal Dan Hubungan Dengan Pemain, Laporan internal menunjukkan bahwa hubungan Alonso dengan beberapa bintang. Termasuk Vinícius Júnior, Jude Bellingham, dan bahkan reaksi pemain atas keputusan rotasi, memicu friksi yang berujung pada ketegangan ruang ganti. Interaksi semacam itu dinilai Bale sebagai bagian dari tantangan utama yang tidak mampu di tangani sepenuhnya oleh Alonso.

Hubungan yang tegang semacam ini menggarisbawahi bahwa Real Madrid bukan sekadar tentang strategi lapangan. Tetapi juga tentang bagaimana seorang pelatih bisa menciptakan rasa keterikatan dan kepercayaan di antara para pemainnya. Bale berbicara dari pengalaman langsungnya selama berseragam Real Madrid, tempat di mana ia bermain bersama nama-nama besar dunia. Dan menyaksikan sendiri bagaimana pemain-pemain kelas dunia merespons gaya kepelatihan yang berbeda.

Reaksi Bale Juga Menjadi Pelajaran Bagi Pelatih-Pelatih Muda

Komentar Bale ini muncul di tengah perdebatan luas di dunia sepak bola tentang apa yang di butuhkan untuk sukses sebagai pelatih di klub-klub papan atas. Mantan pelatih seperti Carlo Ancelotti dan Zinedine Zidane kerap disebut berhasil karena pendekatan mereka yang seimbang. Tetap memberikan kebebasan kreatif kepada pemain sambil mempertahankan struktur tim. Bale menilai model semacam itu—yang memadukan manajemen pemain dan taktik yang fleksibel—adalah kunci yang selama ini berhasil di Real Madrid.

Reaksi Bale Juga Menjadi Pelajaran Bagi Pelatih-Pelatih Muda yang bermimpi menukangi klub sekelas Real Madrid. “Bagusnya taktik hanyalah sebagian dari pekerjaan,” tegasnya. “Yang terpenting adalah bagaimana Anda mampu memadukan visi taktik dengan hubungan kuat dengan pemain.”