Bandara Riyadh

Bandara Riyadh Diserang Houthi Tiga Kali dalam Sepekan

Bandara Riyadh, Arab Saudi, Kembali Menjadi Sasaran Serangan Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, Ada 12 Orang Tewas. Serangan ketiga dalam sepekan tersebut menewaskan sedikitnya 12 orang dan menyebabkan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Insiden ini meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan penerbangan sipil di tengah memanasnya konflik antara kelompok Houthi di Yaman dan pihak yang di dukung Arab Saudi.

Otoritas penerbangan Arab Saudi melaporkan bahwa sedikitnya 309 orang mengalami luka-luka dalam serangan terbaru. Para korban berasal dari sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, Bangladesh, Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir. Sejumlah korban di laporkan mengalami luka serius dan mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Serangan Ketiga dalam Sepekan

Serangan pada Sabtu menjadi bagian dari rangkaian insiden yang menyasar fasilitas penerbangan di Arab Saudi. Dua serangan sebelumnya terhadap Bandara Internasional King Khalid pada pekan yang sama telah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

Dalam salah satu serangan terdahulu, sebuah pesawat komersial milik Saudia Airlines mengalami kerusakan parah setelah kebakaran yang di duga berkaitan dengan serpihan proyektil. Insiden tersebut juga di laporkan menewaskan tiga warga Arab Saudi, termasuk seorang pilot.

Rangkaian serangan itu menunjukkan meningkatnya ancaman terhadap fasilitas transportasi udara di negara tersebut. Bandara Riyadh merupakan salah satu pintu masuk utama bagi perjalanan internasional dan memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi serta mobilitas masyarakat.

Operasional Bandara Riyadh Sempat Dihentikan

Dampak serangan terbaru membuat operasional Bandara Internasional King Khalid di hentikan sementara. Otoritas mengalihkan penerbangan yang menuju Riyadh dan meminta penumpang memeriksa informasi terbaru dari maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara.

Sejumlah maskapai internasional juga membatalkan atau menangguhkan penerbangan menuju ibu kota Arab Saudi karena meningkatnya risiko keamanan. Gangguan tersebut berpotensi memengaruhi jadwal perjalanan penumpang, penerbangan transit, serta aktivitas bisnis yang bergantung pada konektivitas udara.

Kedutaan sejumlah negara turut mengeluarkan imbauan kepada warga negaranya agar menghindari kawasan bandara dan mengikuti arahan keamanan setempat. Langkah tersebut di lakukan untuk mengurangi risiko bagi warga sipil selama situasi masih belum stabil.

Konflik Yaman Memicu Ketegangan Regional

Serangan terhadap bandara Riyadh terjadi ketika konflik di Yaman kembali meningkat. Kelompok Houthi yang di dukung Iran berhadapan dengan pemerintah Yaman yang memperoleh dukungan Arab Saudi. Ketegangan meningkat setelah upaya gencatan senjata sebelumnya melemah dan operasi militer kembali berlangsung di sejumlah wilayah.

Arab Saudi mendukung upaya pasukan pemerintah Yaman untuk merebut kembali wilayah yang di kuasai Houthi. Sebaliknya, kelompok tersebut melancarkan serangan ke sejumlah sasaran di wilayah Arab Saudi sebagai bagian dari eskalasi konflik.

Serangan terhadap fasilitas sipil menjadi perhatian internasional karena dapat mengancam keselamatan masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam pertempuran. Pemerintah dan pihak terkait juga menghadapi tantangan untuk mencegah konflik meluas ke negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.

Arab Saudi dan Dunia Internasional Bereaksi

Koalisi pimpinan Arab Saudi yang terlibat dalam konflik Yaman menyatakan akan merespons serangan tersebut. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengecam serangan terhadap fasilitas penerbangan dan menegaskan bahwa keselamatan warga sipil harus di hormati.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan bahwa pemerintahnya sedang mempertimbangkan langkah yang mungkin di ambil terkait situasi tersebut. Namun, keputusan mengenai keterlibatan lebih lanjut Amerika Serikat belum di pastikan.

Hingga laporan ini di susun, dampak serangan masih dalam penanganan otoritas setempat. Insiden tersebut kembali menegaskan bahwa konflik Yaman tidak hanya berdampak pada wilayah pertempuran, tetapi juga dapat mengganggu transportasi, keselamatan penerbangan, dan stabilitas kawasan Timur Tengah.