Justin Kluivert

Justin Kluivert, Ulangi Kutukan Adu Penalti Ayahnya di Piala Dunia

Justin Kluivert Mengalami Nasib Kurang Beruntung Di Alami Saat Membela Belanda Pada Babak 32 Besar Piala Dunia 2026. Winger berusia 27 tahun itu menjadi salah satu eksekutor yang gagal dalam adu penalti melawan Maroko, sehingga De Oranje harus mengakhiri langkahnya di turnamen lebih cepat. Kegagalan tersebut terasa semakin menyakitkan karena mengingatkan publik pada kisah serupa yang pernah di alami sang ayah, Patrick Kluivert, hampir tiga dekade silam.

Justin masuk sebagai pemain pengganti menjelang akhir pertandingan dengan harapan dapat memberikan kontribusi pada babak adu penalti. Namun, tendangannya justru membentur tiang gawang sehingga Belanda kalah 2-3 dalam drama adu penalti setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit.

Justin Kluivert Gagal Menjadi Penyelamat Belanda

Keputusan pelatih memasukkan Justin menjelang akhir laga di nilai cukup masuk akal. Ia di kenal sebagai pemain yang memiliki teknik tendangan yang baik dan cukup tenang saat berada di bawah tekanan.

Masuk Khusus untuk Adu Penalti

Justin Kluivert baru di mainkan pada menit-menit akhir babak tambahan. Strategi tersebut bertujuan agar sang pemain tampil segar saat menjadi salah satu algojo penalti Belanda.

Sayangnya, rencana itu tidak berjalan sesuai harapan. Saat mendapat giliran menendang, bola hasil sepakannya membentur tiang gawang dan gagal menghasilkan gol. Momen tersebut menjadi titik balik yang membuat Maroko akhirnya memastikan kemenangan dan melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Belanda Harus Angkat Koper Lebih Cepat

Sebelum adu penalti, Belanda sebenarnya sempat berada di atas angin setelah unggul lebih dulu melalui gol Cody Gakpo. Namun, Maroko berhasil menyamakan kedudukan pada masa injury time sehingga pertandingan berlanjut hingga babak tambahan.

Karena tidak ada gol tambahan, laga di tentukan melalui adu penalti. Maroko tampil lebih tenang dan sukses memanfaatkan kegagalan para penendang Belanda untuk mengamankan tiket ke babak berikutnya.

Mengulang Kisah Sang Ayah

Yang membuat cerita ini semakin menarik adalah kemiripan dengan perjalanan Patrick Kluivert di Piala Dunia 1998.

Luka Lama Kembali Terbuka

Pada Piala Dunia 1998, Patrick Kluivert juga mengalami kekecewaan di babak adu penalti ketika Belanda harus tersingkir. Hampir 28 tahun kemudian, putranya mengalami nasib yang hampir sama di panggung sepak bola terbesar dunia.

Kesamaan tersebut membuat banyak penggemar sepak bola menyebut Justin seperti mengalami “kutukan” keluarga Kluivert di babak adu penalti Piala Dunia. Meski istilah tersebut lebih bersifat simbolis, kemiripan dua peristiwa ini menjadi salah satu cerita yang paling banyak di perbincangkan setelah pertandingan usai.

Ramai Dibahas di Media Sosial

Tak lama setelah pertandingan berakhir, nama Justin Kluivert langsung menjadi perbincangan di berbagai platform media sosial. Banyak penggemar yang mengaitkan kegagalannya dengan pengalaman sang ayah, sementara sebagian lainnya memberikan dukungan agar ia segera bangkit.

Meski gagal menjalankan tugasnya sebagai eksekutor, banyak pihak menilai kekalahan Belanda bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Justin. Adu penalti selalu menghadirkan tekanan besar, bahkan pemain terbaik dunia pun pernah mengalami kegagalan dari titik putih.

Pelajaran dari Drama Adu Penalti

Kisah Justin Kluivert menjadi pengingat bahwa sepak bola selalu menghadirkan cerita yang sulit di prediksi. Seorang pemain yang dipercaya karena kualitasnya tetap bisa mengalami kegagalan pada momen paling menentukan.

Bagi Justin, pengalaman pahit ini tentu menjadi pelajaran berharga untuk perjalanan kariernya. Usianya masih berada di puncak performa, sehingga peluang untuk kembali membela Belanda di turnamen besar berikutnya masih terbuka lebar. Sementara itu, bagi publik sepak bola, kisah ayah dan anak keluarga Kluivert menjadi salah satu cerita paling emosional di Piala Dunia 2026, memperlihatkan bagaimana sejarah terkadang seolah berulang di panggung terbesar sepak bola dunia.