
Gaza Menangis: 15 Orang Tewas karena Kelaparan Dalam 24 Jam
Gaza Kembali Berduka Dalam 24 Jam Terakhir, Sedikitnya 15 Warga Palestina Tewas Akibat Kelaparan Dan Malnutrisi Akut Yuk Kita Bahas. Tragedi kemanusiaan ini menjadi gambaran nyata bagaimana penderitaan di wilayah konflik terus memburuk, bukan hanya karena senjata, tetapi karena perut yang kosong dan obat yang tak kunjung datang.
Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan bahwa sejak awal krisis, lebih dari 101 orang telah kehilangan nyawa akibat kelaparan, dengan mayoritas korban adalah anak-anak di bawah umur. Salah satu yang paling menyayat hati adalah kematian Yousef al‑Safadi, bayi laki-laki berusia 6 minggu, yang meninggal setelah ibunya tidak mampu memberinya susu karena dirinya pun mengalami kekurangan gizi. Di tempat lain, Abdulhamid al‑Ghalban, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun, menghembuskan napas terakhir dalam kondisi tubuh yang sangat kurus dan lemah.
Kematian demi kematian ini terjadi di tengah blokade berkepanjangan yang di berlakukan Israel di Jalur Gaza, yang sangat membatasi masuknya bantuan kemanusiaan. Meskipun sempat di buka sebagian pada Mei lalu, distribusi logistik tetap sangat terbatas dan penuh tantangan. Konvoi bantuan kerap terkendala keamanan, minimnya akses jalan, dan buruknya infrastruktur akibat perang.
Sistem layanan kesehatan pun berada di titik nadir. Rumah sakit kewalahan, kekurangan peralatan medis, tenaga medis, hingga nutrisi untuk pasien. Dalam beberapa laporan, tenaga kesehatan bahkan di laporkan pingsan akibat kelelahan dan kekurangan makan. Di ruang-ruang gawat darurat, pilihan yang ada hanya antara mengobati dengan seadanya atau membiarkan pasien perlahan-lahan pergi.
Organisasi-organisasi internasional seperti PBB, WHO, dan World Food Programme telah berkali-kali memperingatkan risiko kelaparan massal (famine) di Gaza. Namun, hingga kini, deklarasi resmi belum bisa di lakukan karena keterbatasan akses untuk mengumpulkan data secara menyeluruh.
Lapar Itu Bukan Hanya Masalah Perut Itu Penyiksaan
Tragedi kemanusiaan di Gaza yang kembali memakan korban jiwa akibat kelaparan mengundang gelombang reaksi emosional dari warganet di seluruh dunia. Kabar meninggalnya 15 orang dalam 24 jam terakhir, termasuk anak-anak, akibat kekurangan gizi dan minimnya akses makanan, memicu kesedihan mendalam sekaligus kemarahan yang meluas di media sosial.
Di platform X (Twitter), tagar seperti #PrayForGaza, #EndTheBlockade, dan #StopStarvingGaza menjadi trending topic. Banyak netizen menyuarakan keterkejutan dan rasa tidak percaya bahwa pada tahun 2025, di tengah kemajuan teknologi dan globalisasi, masih ada wilayah di dunia di mana anak-anak meninggal karena kelaparan.
Salah satu unggahan viral datang dari seorang pengguna asal Indonesia yang menulis: “Lapar Itu Bukan Hanya Masalah Perut Itu Penyiksaan. Dan dunia melihat anak-anak Gaza kelaparan tanpa melakukan apa-apa. Kejam.” Unggahan tersebut mendapat lebih dari 40.000 retweet dan ribuan komentar simpati.
Warganet juga menyerukan kepada pemerintah dan organisasi internasional untuk bertindak lebih tegas. Banyak yang mengkritik badan-badan dunia seperti PBB dan WHO karena di anggap terlalu lamban dalam memberi tekanan kepada pihak-pihak yang memperburuk krisis di Gaza. “Jika kalian bisa kirim bantuan ke bencana alam dalam hitungan jam, kenapa untuk Gaza selalu ada alasan dan batasan?” tulis akun lain dari Malaysia.
Tak sedikit pula warganet yang menggalang donasi dan kampanye sosial melalui media digital. Mereka menyebarkan link untuk membantu LSM yang bekerja di Gaza seperti UNRWA, Save the Children, dan Medical Aid for Palestinians. Kampanye “Satu Klik untuk Gaza” misalnya, mendapat ribuan partisipan dalam waktu singkat. Di sisi lain, sebagian warganet dari negara-negara Barat menyoroti bias media yang di anggap minim meliput tragedi kemanusiaan ini.
Kami Sangat Prihatin Dengan Situasi Di Gaza, Yang Semakin Memburuk Setiap Harinya
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan keprihatinan mendalam atas laporan meninggalnya 15 warga Gaza dalam 24 jam terakhir akibat kelaparan dan malnutrisi akut. Lewat berbagai badan di bawah naungannya, termasuk WHO, UNICEF, dan World Food Programme (WFP), PBB kembali menyerukan tindakan darurat untuk mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar di wilayah tersebut.
“Kami Sangat Prihatin Dengan Situasi Di Gaza, Yang Semakin Memburuk Setiap Harinya. Ini bukan lagi sekadar krisis pangan, ini sudah mengarah pada potensi kelaparan massal,” ujar Stephane Dujarric, Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, dalam konferensi pers di New York. Ia menambahkan bahwa akses kemanusiaan ke wilayah Gaza utara hampir sepenuhnya terputus, membuat distribusi bantuan menjadi sangat sulit, bahkan tidak mungkin.
World Food Programme (WFP) menyebut situasi di Gaza sebagai “zona bencana kelaparan” dan meminta negara-negara donor untuk meningkatkan pendanaan secara signifikan, serta mendesak Israel membuka lebih banyak jalur masuk bagi bantuan kemanusiaan, termasuk bahan pangan, air bersih, dan bahan bakar untuk rumah sakit.
Sementara itu, UNICEF melaporkan bahwa anak-anak di Gaza kini mengalami tingkat wasting (berat badan sangat rendah terhadap tinggi badan) yang mengkhawatirkan. Dan beberapa kasus gizi buruk ekstrem telah berujung pada kematian. Di rektur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, mengatakan, “Anak-anak seharusnya tidak pernah kelaparan hingga mati. Ini adalah kegagalan kolektif kemanusiaan.”
WHO juga mengangkat isu keruntuhan sistem kesehatan Gaza. Mereka menyatakan bahwa rumah sakit kehabisan pasokan medis esensial, termasuk susu untuk bayi, suplemen gizi, dan cairan infus. “Gaza sedang sekarat pelan-pelan,” tegas Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Di rektur Jenderal WHO. Seraya menekankan bahwa penundaan bantuan sama dengan hukuman mati bagi warga sipil yang tidak berdosa.
Pemerintah Indonesia Menyatakan Keprihatinan Dan Duka Mendalam
Pemerintah Indonesia Menyatakan Keprihatinan Dan Duka Mendalam atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Jalur Gaza. Khususnya atas meninggalnya 15 orang dalam 24 jam terakhir akibat kelaparan dan malnutrisi akut. Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu RI) menegaskan bahwa situasi ini merupakan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Dan menuntut dunia internasional bertindak lebih tegas dalam menghentikan penderitaan rakyat Palestina.
Dalam pernyataan resmi yang di rilis di Jakarta, Kemlu RI menyebutkan bahwa Indonesia mengecam keras. Blokade berkelanjutan yang menghambat distribusi bantuan kemanusiaan ke Gaza, dan menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB. Untuk segera mengambil langkah konkret demi menyelamatkan nyawa warga sipil, terutama anak-anak yang menjadi korban paling rentan.
“Indonesia mendesak agar akses kemanusiaan di buka seluas-luasnya. Kelaparan tidak boleh di gunakan sebagai senjata dalam konflik bersenjata,” demikian pernyataan resmi Kemlu RI. Pemerintah juga mengingatkan bahwa tindakan kolektif komunitas internasional sangat di perlukan. Untuk menghentikan tragedi kelaparan ini agar tidak menjadi bencana kemanusiaan yang lebih besar.
Presiden Joko Widodo, melalui akun media sosial resminya, menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Palestina. Ia menegaskan bahwa Indonesia akan terus berdiri bersama Palestina, tidak hanya dalam diplomasi, tetapi juga melalui bantuan nyata. “Ini bukan sekadar soal politik, tapi soal kemanusiaan. Kita tidak boleh tinggal diam ketika anak-anak mati kelaparan,” tulis Jokowi.
Di sisi bantuan kemanusiaan, pemerintah Indonesia telah bekerja sama dengan berbagai lembaga kemanusiaan nasional seperti Baznas, ACT, dan MER-C. Serta mengoordinasikan pengiriman bantuan tambahan berupa makanan siap saji, obat-obatan. Dan susu formula untuk bayi ke perbatasan Rafah melalui mitra internasional Gaza.